Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 November 2013

Bian dan Smart Phone

“Bunda ... Bunda ...,” Bian berlari menuju rumah sambil teriak-teriak memanggil ibunya. “Bunda di mana, sih?”
“Ada apa, Bian? Kok, pulang sekolah bukannya ngucapin salam, malah teriak-teriak?” tanya Bunda.
“O iya, lupa. Assalamu alaikum.” Kata Bian.
Wa alaikum salam,” kata Bunda sambil tersenyum memandang anaknya yang berumur 5 tahun itu. “Tadi, ada apa Bian, teriak-teriak manggil Bunda?”
“Aku mau cerita, tadi di sekolah, aku baca cerita lho. Ceritanya sangat seru lho, Bunda.” Bian bercerita dengan semangat.
“Memangnya kamu baca buku apa?” Tanya Bunda.
“Bukan buku, Bunda. Tapi, aku baca ceritanya lewat HP Ibu Guru. Ceritanya tentang kebudayaan Indonesia.” Kata Bian. “Di HP Ibu Guru, gambar yang ada di ceritanya bisa bergerak-gerak, lho. Bagus sekali.”
Bunda tersenyum, lalu berkata, “Itu karena HP Ibu Guru smart phone.”
Smart phone?” Bian terheran heran.
“iya, smart phone adalah telepon genggam yang bisa melakukan banyak hal, dari telepon, SMS, main games, internetan,  bahkan bisa menginstal banyak aplikasi. Salah satunya, aplikasi cerita yang kamu baca tadi, Bian.” Bunda menerangkan kepadaBian sambil tersenyum.
“Oooh,” Bian mengangguk-angguk sambil membentuk huruf “O” dengan mulutnya. “Bagus sekali, ya, Bunda?”
“Iya. Karena itu, smart phone sangat berguna bagi kita di zaman modern seperti sekarang. Tapi, hati-hati, lho. Smart phone juga bisa disalah gunakan.” Kata Bunda. Bian hanya mengangguk-angguk saja.
“Bian juga bisa melakukan banyak hal, lho. Bahkan bisa lebih banyak lagi, kalau Bian rajin belajar. Bian nanti bisa menjadi smart kid.” Kata Bunda sambil tertawa.
“Apa benar, Bunda? Asssiiik, aku mau jadi smart kid  ah! Aku mau belajar sampai aku bisa melakukan banyak hal!” Teriak Bian, sambil mengacungkan sebelah tangannya ke atas.
Bunda hanya bisa tertawa gemas, melihat anaknya itu.

***

Senin, 03 September 2012

Rachel dan Billie


Malam semakin dingin, tetapi Rachel masih terus membereskan barang-barangnya. Dia mengepaki pakaian dan barang-barang yang dirasa penting miliknya untuk meninggalkan rumah itu besok pagi. Setelah pertengkaran hebat dengan suaminya sebulan yang lalu dan gugatan cerai yang dia ajukan ke pengadilan, dia akhirnya memberanikan diri untuk meninggalkan rumah yang telah dia tempati bersama suaminya selama 10 tahun itu.
                Perceraian sekarang memang sudah biasa terjadi, tapi bukan berarti bahwa perceraian sudah tidak lagi meninggalkan rasa sakit hati, keragu-raguan, kekecewaan dan kerinduan dari bekas-bekas cinta yang pernah ada. Rachel pun mengetahui hal tersebut, tetapi kini dia merasa sudah terlalu lelah dengan suaminya. Dia merasa sudah tak ada kecocokan lagi, dan pernikahan yang telah mereka jalani bersama-sama sudah tak mungkin dipertahankan lagi.
                Suaminya, Billie, sudah meninggalkan rumah itu sejak sebulan yang lalu di hari yang sama dengan pertengkaran itu terjadi. Rachel mengusirnya secara tidak langsung dengan perkataan yang cukup kasar bahwa dia tidak ingin hidup bersama lagi dengan Billie. Dan Billie pun meninggalkan rumah tanpa mengatakan apapun dengan keadaan emosi sama seperti Rachel. Dan dia pun menghilang, entah dimana dia tinggal sekarang.
                Pertengkaran itu berawal 2 tahun yang lalu ketika putri semata wayang mereka meninggal dunia. Putri mereka, Melo, tiba-tiba jatuh sakit dan demam tinggi  dan menghembuskan napas terakhirnya 2 hari setelahnya di sebuah rumah sakit. Rachel sangat terpukul akan hal itu. Rachel terus menerus menyalahkan Billie atas kematian Melo karena ketika jatuh sakit, Billie tak ada di sisi mereka. Billie yang bekerja sebagai seorang musisi, sedang berada jauh di luar pulau bersama bandnya ketika Melo jatuh sakit. Billie hanya datang ke rumah sakit beberapa saat sebelum Melo menghembuskan napas terakhirnya.
                Awalnya, Rachel mencoba untuk tidak menyalahkan Billie atas kematian Melo. Tapi keadaan telah berubah. Sejak saat itu, perbedaan pendapat menjadi perdebatan sengit, perdebatan menjadi pertengkaran, dan di setiap pertengkaran Rachel selalu ingin menyalahkan Billie atas kematian Melo walaupun dia tak benar-banar melakukannya. Dan Billie, yang dulunya adalah pria sabar yang periang dan humoris berubah menjadi pemurung dan tertutup. Dia bahkan sering tidak pulang dan diam di studionya dengan hanya mengirim SMS memberi tahukan dia tak akan pulang tanpa alasan yang pasti. Dan setiap ditanya alasannya lewat SMS, dia tak membalas dan hanya menjawab “kerja” ketika ditanya secara langsung.
                Rachel membongkar barang-barang lamanya, dan menemukan sebuah kotak berwana merah. Dia membuka kotak itu dan menemukan 2 surat di dalamnya. Sejenak dia terdiam lalu dia membuka salah satu surat tersebut. Rachel pun tanpa sadar kembali mengingat kenangan masa lalunya.
***
10 tahun yang lalu
                Setelah kemarin lamaran Billie dan keluarganya diterima oleh Rachel dan keluarga, keluarga mereka kini berkumpul lagi untuk membicarakan tanggal pernikahannya. Rachel dan Billie sendiri tidak terlalu ambil pusing kapan akan dilaksanakannya pernikahan tersebut. Rachel dan Billie malah bercanda dan saling mengejek di ruang TV ketika keluarga mereka membicarakan pernikahan mereka.
                “Kamu tau ga?” Tanya Billie.
                “Tau apaan? Ga jelas banget sih.” Jawab Rachel cuek.
                “Kata temen-temen, kamu adalah perempuan yang terlahir dengan keberuntungan.”
                “Iyalah, kalo kamu adalah laki-laki yang lahir aja udah untung.” Ejek Rachel menyela kata-kata Billie.
                “Idiih, ngikutin kata-katanya film Avatar the Legend of Aang.” Kata Billie.
                “Hahaha.” Rachel tertawa. “emang bener anak-anak ngomong kaya gitu?” Tanya Rachel.
                “Iya bener. Tanyain aja.” Jawab Billie. “Buktinya perempuan yang hanya seperti kamu dalam waktu dekat akan menikah dengan laki-laki sekeren saya. Engga untung gimana coba? Hahahaha.
                “Yee, kirain serius.” Kata Rachel. “Justru kamu yang untung, kayanya aku harus pikir-pikir lagi deh apa bener aku harus nikah sama kamu. Hahahaha.”
                “Emang mau jadi perawan terus sampei tua? Kalo ga nikah sama saya, kamu ga akan dapet lagi laki-laki yang mau nikahin kamu. Ini juga untung saya lagi ga sadar. Kalo lagi sadar, mana mau nikahin kamu. Hahahaha.” Ejek Billie.
                “Sialan!!” Maki Rachel sambil melempar kotak plastic berwarna merah sebesar tangan ke kepala Billie. Untung Billie berhasil menghindar dan hanya kena sedikit bahunya.
                “Awww.” Billie mengelus-ngelus bahunya sambil membawa kotak yang dilemparkan oleh Rachel. “Kotak apaan nih?” Tanya Billie.
                “Mainan anak deh kayanya. Punya si Sasha, ponakan aku.” Jawab Rachel.
                Billie terdiam sambil memain-maiankan kotak itu. Dan ternyata kotak itu bisa dibuka. Spertinya kotak itu dibuat untuk menyimpan sesuatu di dalamnya.
                “Buat saya ya?” Pinta Billie.
                “Idiiih, ngambil barang punya anak kecil.” Jawab Rachel. “Punya si Sasha tuh, minta aja sama dia.”
                “Biarin.” Jawab Billie sambil menghampiri Sasha yang sedang main di teras untuk meminta kotak itu.
                “Sha, ini buat om ya? Entar dikasih maenan robot-robotan.” Rayu Billie kepada anak berumur 4 tahun itu.
                “Engga mau, Sasha kan perempuan, masa dikasih robot-robotan?” Jawab Sasha.
                “Ya udah, kamu pergi sama om aja ya. Kamu boleh jajan apa aja deh, terserah kamu.” Kata Billie.
                “Asiiiikkk.” Sasha senang.
                “Tapi jangan yang mahal-mahal ya. Terus jangan banyak-banyak juga. Haha.” Kata Billie.
                “Huuuuuhh, pelit!”Ejek Rachel yang ternyata dari tadi mendengarkan.
                “Hahahahaha.”
***
                Acara pernikahan yang berlangsung berlangsung dari tadi pagi akhirnya selesai sudah. Billie dan Rachel akhirnya bisa beristirahat setelah terus-terusan berdiri untuk menyalami banyak tamu yang hadir di pernikahan mereka. Meskipun begitu, mereka sangat senang karena banyak yang hadir dan mendo’akan pernikahan mereka.
                Billie masuk kamar setelah beristirahat sambil nonton TV dan merokok di ruang keluarga. Rachel yang sedang ganti baju kaget dan langsung menutupi tubuh bagian atasnya yang hanya memakai pakaian dalam.
                “Heh, sialan! Ketuk pintu dulu dong kalo mau masuk.” Maki Rachel. “Keluar dulu sana! Lagi ganti baju nih.”
                “Apaan sih?! Sama suami sekeren ini, ngomongnya kasar banget. Hahahaha.” Jawab Billie sambil tertawa. “Kalo kamu mau jadi istri yang baik, bicaranya yang halus dong. Lagian kan kita udah jadi suami-istri. Ga usah malu kali. Hahahaha.”
                “Apaan sih?! udah sana cepet keluar deh.” Kata Rachel sambil terus menutupi tubuhnya.
                “Engga mau.” Jawab Billie sambil cengengesan. “Saatnya malam pertama. Eng-ing- eng. Kamu udah siap kan Rach. Hahaha.” Billie semakin menjadi-jadi sambil berjalan mendekati Rachel dengan tangan yang terbuka seperti akan menangkap Rachel.
                “Sialan! Sana keluar ih!” Jerit Rachel sambil bersiap dengan kuda-kuda yang seperti akan menendang Billie.
                “Hahahaha. Iya, iya deh. Dasar.” Jawab Billie sambil keluar kamar.
                Tak lama kemudian, Rachel keluar dari kamar dan duduk di sebelah Billie nonton TV. Mereka pun terdiam untuk beberapa saat sampai Billie tiba-tiba berdiri lalu mengacak-acak rambut Rachel.
                “Ih, baru juga disisir nih.” Kata Rachel sambil mengahalangi tangan Billie yang sedang mengacak-acak rambutnya.
                “Hahahaha. Dengerin deh, saya mau ngomong sama kamu.” Kata Billie.
                “Kalo mau ngomong, ngomong aja. Biasanya juga ga tau malu, ga diajak ngobrol aja suka ikut nimbrung.” Jawab Rachel.
                “Hahaha.” Billie tertawa. “Kita bikin surat yu.” Ajak Billie.
                “Surat apaan? Suka aneh-aneh deh”
                “Ya, kamu bikin surat tentang keinginan dan harapan kamu tentang saya, perasaan kamu, apa aja deh buat saya. Entar saya juga buat surat buat kamu.” Jawab Billie.
                “Idiiih, engga ah, malu. Lagian kan tinggal ngomong, ga usah pake surat.” Jawab Rachel.
                “Yeee, kita ga akan baca suratnya sekarang. Kita simpen di kotak merah yang dari si Sasha. Dibacanya entar aja.” Jawab Billie.
                “Terus kapan bacanya? Emang buat apa sih?” Tanya Rachel.
                “Ya nanti, kalo suatu saat kita ribut besar dan engga ada yang mau ngalah. Mungkin kita bakal diem-dieman. Nah, kalo itu terjadi, kita baca surat-surat ini. Siapa tau bisa mengingatkan kita tentang perasaan kita, dan alesan kenapa kita menikah dan sebagainya. Selain karena hal itu, kita ga boleh baca suratnya, kecuali salah satu dari kita meninggal duluan. Gimana?” Billie menerangkan.
                “Apaan sih? Emang kamu mau ngajak ribut?” Tanya Rachel.
                “Ya engga, tapi kan suami-istri itu pasti suatu saat akan ribut. Nah, kalo sampei kita ribut gede, kan jadi ada yang ngingetin. Tapi kita berdo’a aja supaya kita ga sampai ngebaca surat itu ketika kita berdua masih hidup.” Billie menerangkan.
                “Ohh, ya udah deh. Ayo.” Jawab Rachel.
                Setelah beberapa lama, merekapun selesai menulis surat masing-masing dan menyimpannya dalam kotak merah tersebut. Mereka lalu menyimpan kotak merah itu di dalam lemari bersama barang-barang dan foto-foto kenangan mereka dan teman-teman mereka.
                “Udah tuh. Sekarang apa lagi?” Tanya Rachel.
                “Saatnya malam pertama. Hahahaha.” Jawab Billie.
                Duaakk!! Rachel melempar sebuah buku tipis ke tubuh Billie lalu berlari ke dalam kamar. “Dasar otak ngeres!! Weeee!!! Hahahhaha.” ejek Rachel.
                Billie pun langsung mengejar Rachel sambil tertawa.
***
                Rachel membuka surat yang ditulis oleh Billie. Surat itu dilipat dengan rapih dengan tulisan ‘untuk istriku tercinta, Rachel.’ Didepan suratnya. Rachel pun mulai membacanya.

Assalamu alaikum warahmatuLLAHI wabarokatuH
Dear Rachel,
Seperti yang udah kita sepakati, mungkin ketika kamu membaca surat ini, kamu lagi sebel banget sama saya. Marah banget, sampai ngerasa kamu ga akan pernah bisa maafin saya. Atau (tanpa rasa PD yang berlebihan, hahaha.) kamu lagi kangen-kangennya sama saya, karena ternyata saya dipanggil oleh Tuhan lebih dulu. Tapi yang jelas ketika saya nulis surat ini, saya engga lagi kesel atau marah sama kamu. Saya nulis surat ini ketika saya sedang mencintai kamu dengan setulusnya seperti biasa. Seperti saya sangat mencintai kamu di hari-hari yang lalu, sekarang dan akan datang.
Rachel sayang, meskipun kamu kadang-kadang nyebelin, (atau mungkin sering ya? Hahaha.) saya sangat mencintai kamu, saya sangat peduli sama kamu, walaupun mungkin saya ga ngomong sesering saya bisa. Dan saya rasa perasaan itu ga akan berubah, meskipun mungkin nanti kita merasa sifat kita berubah atau kita merasa kita sudah tak saling mencintai lagi.
Saya juga mau mengingatkan dan memohon dengan sangat, maafkan saya. Maaf karena segala kesalahan yang telah saya buat, atau yang mungkin akan saya buat yang membuat kamu sangat marah. Ketika saya melakukan kesalahan itu, mungkin saya tidak bermaksud untuk melakukannya atau saya sedang khilaf. Yang jelas, kamu harus maafin saya ya. Kamu kan baik. Hahahaha.
Saya tau, sering kali saya bertingkah sangat nyebelin (atau kadang-kadang ya? Kayanya kadang-kadang deh. Hahahaha.) Bahkan lebih nyebelin daripada kamu. Hahaha. Tapi sebenernya dalam hati saya, saya ga mau kamu ngerasa sebel, marah, sedih atau apapun, apalagi karena saya. Saya sih maunya kamu senang, bahagia, sehat dan semua hal yang baik pokonya. Tapi, karena semua orang punya hati dan pikiran yang berbeda, mungkin saya bisa melakukan hal yang membuat kamu sebel, marah atau sedih. Seperti yang udah saya katakan, mungkin saya dalam keadaan emosi, khilaf atau ga sadar. Jadi maafin ya.
Rachel yang baik, jika suatu hari kita bertengkar hebat, dan kamu membaca surat ini, kamu pasti sudah diingatkan oleh surat ini. Jadi, saya mohon, ingatkan juga saya kalo saya benar-benar mencintai kamu dan menyayangi kamu, meskipun nanti mungkin kamu masih sebel sama saya.
Rachel yang cantik (hahahaha, saya jadi malu sendiri kalo saya muji kamu.), kalo saya meninggal duluan, kamu juga harus maafin kesalahan-kesalahan saya dan mengikhlaskan kepergian saya. Jangan lupa dido’ain, hahahaha.
Kalo suatu hari kita harus berpisah, baik karena kesalahan yang saya buat atau saya meninggal duluan, kamu harus bisa tegar ya. Kalo bisa membuat kamu bahagia, carilah laki-laki yang lebih baik dari saya, yang bisa kamu cintai lebih dari saya (meskipun ga sekeren saya, haahahhaa.), yang bisa ngejaga kamu. Inget, harus lebih baik!! Hahahaha. Bukan karena saya mau kamu jadi istri orang lain. Tapi karena mungkin pada saat itu, saya sudah ga bisa atau udah gagal menjaga kamu dengan baik.
Mungkin segitu aja deh suratnya soalnya saya bingung mau nulis apalagi. Tadinya mau dibikin menyentuh dan mengharukan, tapi malah memusingkan ya?? Hahahaha. Rachel yang tersayang, I love you very much.
NB: Pas kamu baca surat ini, saya masih orang paling keren di Indonesia kan? Hahahaha.

Rachel meneteskan air mata sambil tersenyum. Dia melipat kembali surat itu dan memasukannya kedalam kotak merah yang diletakan didepannya. Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Dia pun langsung mengusap air matanya sambil berjalan ke pintu.
‘Jam 11 malam, siapa orang yang bertamu jam segini?’  Pikir Rachel.
Rachel melihat lewat jendela siapa yang datang. Ternyata Mexi dan Dzikri, teman sebandnya Billie, bersama Aline, perempuan yamg memanage bandnya Billie. Rachelpun membuka pintu.
“Hai, ayo masuk.” Ajak Rachel.
“Eh iya.” Jawab Dzikri. “Billienya ada?”
Setelah mempersilahkan duduk Rachel menjawab, “Ga ada, udah lama dia ga pulang kesini. Emang kalian engga tau? Mau minum apa?” Tanya Rachel.
“Ga usah deh.” Jawab mereka.
“kita sebenernya kesini mau nyariin Billie, sekalian mau minta maaf sama kamu.” Kata Aline, to the point.
“Minta maaf? Buat?” Tanya Rachel bingung.
“Gini, seharusnya kita minta maaf sama kamu udah dari dulu, tapi kita sangat malu dan ga berani ngomong sama kamu. Tapi kita denger kamu udah ngajuin gugatan cerai sama Billie. Kita mau ngejelasin aja, siapa tau bisa jadi pertimbangan buat kamu. Billie pernah cerita kalo hubungannya sama kamu berjalan tidak baik. Hal ini dimulai sejak kematian anak kalian, Melo.”
“Kamu mungkin nyalahin Billie karena dia ga segera datang ketika Melo sakit. Tapi sebenernya itu salah kami. Billie udah siap untuk cancel 3 acara yang di Kalimantan itu untuk segera pulang, tapi kami memaksa Billie untuk tetap ngelanjutin tour kita. Soalnya MOU yang kita sepakati menyebutkan kita akan kena penalty untuk membayar ganti rugi jika kita mengcancel gigs-gigs tersebut, dan harganya ga murah. Kita juga ga mungkin maen tanpa Billie. Salahnya kami juga, karena Billie bilang Melo demam, kami jadi meremehkan penyakit itu dan membujuk Billie agar professional dan tetap main, karena kami menganggap paling sehari-dua hari juga demamnya akan turun.” Mexi menjelaskan panjang lebar.
“Jadi, kami harap kamu bisa mempertimbangkan kembali gugatan kamu itu. Kalo kamu mau marah dan benci sama kami, kami akan menerimanya, dan kami sangat menyesal dan meminta maaf.” Kata Dzikri.
“Kami kesini juga tanpa sepengetahuan Billie. Tapi kami harap kami bisa ngebantu.” Tambah Aline.
Rachel terdiam. Dia merasa marah, sedih, dan menyesal. Dia bingung sekali harus berkata apa sekarang.
“Tapi Billie ga pernah bilang gitu ko?” Tanya Rachel.
“Billie itu sangat menyayangi kamu dan Melo. Tanpa kamu menyalahkan dia pun, dia sendiri terus menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Melo. Billie merasa bersalah pada Melo dan kamu, dia butuh seseorang buat ngebantu dia. Dan kami ternyata ga cukup menolong untuk dia. Kami rasa hanya kamu yang bisa nolong dia.” Jawab Mexi.
Rachel kembali terdiam. Sejenak, ruangan itu tampak hening dan tak lama kemudian mereka pun pamit pulang dengan perasaan tak enak tapi cukup lega karena telah mengatakan yang sebenarnya.
Rachel terus terjaga sampai shubuh karena terus memikirkan dan mencoba mencerna apa yang telah terjadi.
‘Adilkah aku karena terus menyalahkan Billie atas kematian Melo, ketika Billie sama sedihnya denganku? Bahkan mungkin lebih, karena aku terus menambah penderitaannya dengan terus menyalahkannya.’  Pikir Rachel.
“Dari awal, seharusnya aku harus bisa mengikhlaskan kepergian Melo dan tidak melakukan ini semua. Kami harus memperbaiki semua ini dan mulai lagi dari awal.” Gumam Rachel sambil bergegas membongkar kembali isi tasnya dan menyimpan kembali ke tempat semula.
Setelah selesai menyimpan pakaian-pakaiannya ke lemari, Rachel mengambil handphonenya da membuka phonebook dan mencari nama ‘lovely husband’. Lalu dia langsung menelepon Billie.
“Assalamu alaikum.” Terdengar suara Billie di ujung telepon.
“Wa alaikum salam. Dimana kamu?” Tanya Rachel. “Cepat pulang, aku mau ke pasar. Ga ada yang jaga rumah.”
“hah?” Billie bingung.
“Selain jaga rumah, kamu juga harusnya ngejaga aku kan?” Kata Rachel.
Mereka pun terdiam. Terdengar suara Billie menangis, meskipun tak jelas.
“Maafkan saya.” Billie memulai pembicaraan lagi.
“Maafkan aku juga. Cepat pulang. Sekarang juga ya.” Kata Rachel.
“Iya. I love you.” Jawab Billie langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Rachel.
Lalu Rachel mengetik SMS untuk Billie yang bertuliskan ‘Sialan! Ga punya sopan-santun nutup telepon seenaknya. Awas aja nanti pas nyampe rumah. Hahahaha. I love you too.’
***

Jumat, 02 Maret 2012

story made by my friend, Elizabeth Ket (Anna)



ini adalah cerita yang ditulis oleh teman saya yang bernama Elizabeth Ket (Anna). Sangat suram, menurut saya terlalu emo bahkan untuk anak-anak emo itu sendiri. Padahal orangnya sangat menarik kalo diajak ngobrol. Yah silahkan dibaca aja. Hahahahhahahahhahaha...


Dear Diary,
I don't really know what to say to myself. I appear to be so happy and cheerful, but I'm Lonely. I'm Alone. I feel like no one can hear my silent cries. My cries of help are all in my writings. They are running through the words i write. Only If someone could help me. I feel like im a lost soul and if im not helped, I will kill myself. I used to look at knifes and buildings and wish my death. Recently, I have promised myself I wouldn't dare to cut myself again, but it becomes hard sometimes. I feel like i want to share everything with just one person, but It's so hard! I just couldn't. I need professional help. I don't give a damn about telling anyone anymore... I just want HELP.

I wake up, about to get ready for school, but i hesitate of the idea of having to get up to face reality. Reality was something i just couldn't face. Reality.. well let's say if i faced it... I might just try to end it. I seem so strong, but im just weak. I just head out to school without breakfast, what was the point of breakfast anyway?

My usually friend shout towards me, greet me, and we chat away about our weekends. What weekend? I did nothing. BUT that was no problem i was so absorbed about their weekends The problem with me is I don't give that much of a damn about others, but i try to. Here was my attempt second period:

"Hey Dylan, Get your ass over here" I screamed across the hall.

" Man Shutup, Your loud"

" Sorry, I can't help it. Bad habits.."

"SO what's up?? Did you actually do any of your homework?" He sighs.

"Well let's see. I tried then fell asleep..." I crack up laughing with him.

" Yeah something came up so you know i couldn't exactly do it" He said and looked down.

"Really? What happened? You ok?" I said worryingly.

I didn't actually CARE.. but it was my dream someone would care for me like that

" I'll tell you later via internet" He said with a smirk, waves, then runs off.
OR NEVER much?
Dear Diary,
Most people think im a girl by the way i talk at first, but in reality IM A GUY. This guy has a diary, yes he does. i don't mind though. Anyway the next day, Dylan's ass didn't come to school which really pissed me off. I don't know why, but he was clearly hiding something. I hate secrets even though i have about 30-40 of them. I'm just used to not telling others about me... bad habits, i tell you.

In the middle of my english class, the topic of "who's better, females or males?" came up. Everyone excepting me to side with the females, which i did because their logic made so much more sense. The sad part was i was the only guy on the female side until my friend lost a coin toss and had to come to to my side. Yeah, I'm Evil that way.

"Will, whose side are you on? Get the hell over here, your not a girl," Bob screamed at me with frustration. He was right i wasn't a girl, but this was a pretty nice way to get them.

" I'm just on the side i agree with, don't siding with genders and just go with what you believe bob... with what you believe you can achieve." I said like some spokesman and that's when he got really pissed.

"DA FUCK is wrong with YA? Wanna kiss my ass, faggot?" He said with a smirk.

"Happily, just bring it here and ill kiss that sexy ass away" I said winking. After this, Everyone including BOB cracked up laughing.
Let's make this clear. I really am not gay. Perhaps i'm not even interested in either gender. Maybe animals then? They do seem like my type, don't ya think?

Kamis, 01 Maret 2012

dan


Dunia ini penuh dengan ketidak pastian. Tak ada yang benar-benar tau apa yang akan terjadi di masa depan. Dan itulah yang membuat dunia ini menarik, paling tidak hal itu yang saya pikirkan. Tapi terkadang hal itu juga sangat menyebalkan, karena kita juga jadi harus pernah menyesali yang terjadi dan tindakan-tindakan kita.
                Pagi itu Dzikri mendengar kabar dari ibunya bahwa sepupunya Syahdan masuk rumah sakit dan keadaannya kritis.
                “De, Syahdan masuk rumah sakit. Coba kamu jenguk, rumah sakitnya deket kampus kamu ko. Lumayan parah katanya.” Kata Ibunya Dzikri.
                “Owh ya? Iya nanti insya ALLAH saya kesana.” Jawab Dzikri.
                Pagi-pagi itu Dzikri sebelum kuliah berencana pergi ke kantor polisi dulu untuk menanyakan tentang surat izin kegiatan yang dia dan teman-temannya akan selenggarakan. Dia berangkat bersama dengan temannya Vidia. Hari itu Vidia menangis krena ada sedikit masalah keluarga yang menimpanya. Dzikri hanya bisa mendengarkan karena Dzikri tak tau apa yang harus dilakukan ketika ada seseorang menangis di dekatnya.
                Sesampainya di kantor polisi, Dzikri masuk ke kantor bagian perizinan sedangkan Vidia menunggu di luar.
                “Pa, gimana surat rekomendasi buat ke Polrestabes itu? Apa sudah jadi?” Tanya Dzikri.
                “Entarlah, disininya lagi sibuk. Kapolseknya mau ganti, jadi ga akan bisa keluar sekarang-sekarang. Tenang aja, pasti keluar ko.” Jawab Polisi itu.
                Selalu begitu. Polisi itu kadang sangat aneh, ketika kita menyampaikan permintaan surat izin jauh-jauh hari, mereka menyuruh kita tenang dan terus menunda-nundanya, tapi jika kita mengajukannya dekat dengan hari H, mereka justru marah-marah. Aneh.
                Karena waktu untuk masuk kuliah masih cukup lama, Dzikri pun mengajak Vidia ke rumah sakit untuk menjengukk Syahdan. Dzikri mengajak kesana sekalian agar Vidia dapat sedikit melupaka masalahnya. Vidia pun setuju dan mereka pun pergi bersama ke rumah sakit itu.
                Setibanya di rumah sakit, mereka masuk ke ruangan tempat Syahdan dirawat. Mereka harus menggunakan masker dan baju yang disiapkan rumah sakit sebelum masuk agar tidak tertular dan agar tidak membawa debu kotor dari luar.
                “Kenapa dan? Hahaha.” Tanya Dzikri sambil bercanda.
                “Ga tau. Saya juga ga inget.” Jawab Syahdan.
                “Kemarin dia parah banget. Jadi was-was sama khawatir. Tapi sekarang udah mendingan untungnya.” Ibunya Syahdan menjelaskan. “Malah sekarang udah bisa protes tentang makanan rumah sakit. Ga enak katanya, pengen nasi Padang aja katanya. Hahahaha.”
                “Hahahaha.” Mereka pun tertawa.
                Setelah beberapa lama mereka ngobrol, Dzikri dan Vidia pun pamit dan meninggalkan rumah sakit itu. Setelah mengantar Vidia sarapan bubur, mereka pun langsung pergi ke kampus.
***
Kira-kira dua minggu setelah Dzikri menjenguk Syahdan, Dzikri dan ibunya mengunjungi rumah Syahdan di daerah Bumi Asri, Bandung. Ketika itu Syahdan tampak sedang tidak ada kerjaan. Dzikri mengajaknya ngobrol, dan mereka membicarakan tentang gitar. Setelah beberapa lama Dzikri dan ibunya pun kembali pulang.
Dua hari setelah itu, Syahdan mengirim sms ke Dzikri menanyakan tentang software-software untuk recording. Ternyata kesehatan Syahdan sudah pulih sekarang. Dia sudah mampu beraktifitas seperti biasa.
***
                Dzikri sedang bercanda sambil menonton film di kostan Kiki bersama beberapa temannya ketika sms dari ibunya sampai di hpnya.
                ‘De, Syahdan meninggal.’
                Sms itu sangat singkat tapi sangat mengejutkan, membuat pusing, membuay segalanya jadi serba aneh. Bagaimana mungkin? Tapi itu benar-benar terjadi.
                See you in heaven Dan. Insya ALLAH.

Kamis, 23 Februari 2012

first time in college


Musim ospek sudah berakhir. Setelah beberapa hari libur untuk istirahat, saya akhirnya harus datang ke kampus untuk pertama kalinya kuliah. Kalau dipikir-pikir saya rasanya sudah 6 tahun berlibur/ istirahat tanpa pernah sekalipun menggunakan otak saya untuk kepentingan akademik. Masa senang-senang, masa paling bahagia bersama teman-teman seperjuangan, masa SMP dan SMA telah berakhir. Kini saya bertekad untuk menggunakan otak yang tidak terasah ini untuk berpikir. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik di kampus ini. Setidaknya itulah yang saya pikirkan pada saat itu.
                Setelah saya memarkirkan motor saya, saya berjalan masuk ke dalam kampus. Hari ini kamus tampak begitu ramai. Banyak senior-senior yang waktu itu jadi panitia ospek sedang mengobrol baik dengan teman-teman seangkatannya maupun dengan anak baru, yaitu mahasiswa angkatan saya. Dan dengan wajah blo’on atau bahasa lembutnya polos, saya berjalan masuk dan mengenali beberapa wajah walaupun tak tau nama-nama mereka.
                Semua orang tampak sedang mengobrol dan bercanda. Tampaknya mereka sudah saling akrab, bahkan anak baru seperti saya. Tapi tampaknya hanya saya yang belum berteman sama sekali disini. Tak ada orang yang bisa saya sapa dan tak ada orang yang menyapa saya. Mungkin karena ketika ospek saya tidak aktif dan tidak banyak mengobrol dengan siapa pun. Yah, sifat saya memang begitu, kurang bisa cepat bergaul dengan orang baru.
                Saya membuka tas dan melihat jadwal mata kuliah saya hari ini. Saya mulai mencari kelas tempat mata kuliah akan dilangsungkan. Saya tak pernah menyangka saya akan tersesat di kampus sekecil ini. Saya memang buruk dalam mengingat jalan. Di saat saya kebingungan, seorang mahasiswa yang ternyata anak baru juga bertanya kepada saya tentang ruangan yang saya juga cari.
                “Maaf, ruangan 401 dimana ya?” Tanyanya.
                “Wah, kebetulan saya juga lagi nyari ruangan itu. Hahahahha. Kamu anak baru juga?” Jawab saya sambil balik nanya.
                “Iya, kenalin nama saya Aris.”
                Singkat cerita, setelah berkenalan kami pun sama-sama mencari kelas tersebut meskipun sebenarnya Arislah yang mencari, dan saya hanya mengikutinya. Setelah kami menemukan kelasnya, ternyata Aris sudah punya teman yang cukup akrab disana. Dan banyak mahasiswa baru yang sedang ngobrol-ngobrol akrab di depan kelas itu.
                Tampaknya saya adalah satu-satunya mahasiswa yang hanya punya satu teman di kelas saya sendiri. Apa yang bisa saya katakan? Saya hanya pernah ngobrol dengan Aris, itu juga gara-gara kami tak sengaja bertemu ketika tersesat mencari kelas. Walaupun ada beberapa mahasiswi yang saya kenali, karena kami teman satu kelompok pada saat ospek, kami sebenarnya tak pernah benar-benar ngobrol satu sama lain. Karena itulah saya hanya diam dan sesekali ngobrol sama Aris yang akhirnya mengenalkan saya dengan teman-temannya. Ternyata mereka teman sekelompok Aris waktu ospek. Nama mereka adalah Opik dan Mimin. Dan ada satu lagi yang baru kami kenal juga, yaitu Luthfi.
                Ketika kami ngobrol, walaupun saya ngobrol hanya sebagai basa-basi sebagai teman baru, saya melihat seorang gadis sedang mengobrol dengan teman-temannya dan bertanya pada temannya apakah kami, saya dan teman-teman baru saya, adalah teman sekelasnya. Temannya ternyata juga tidak tau dan malah menyuruhnya untuk menanyakan pada kami.
                “Hei, anak baru juga?” Tanyanya.
                “Iya.” Jawab Aris.
                “Kelas A Inggris juga?” Tanyanya lagi.
                “Iya.” Jawab Aris, seperti mengulang jawaban dari pertanyaan sebelumnya.
                Mereka pun berkenalan. Gadis itu menyalami satu-satu orang-orang yang duduk di sekitar situ untuk berkenalan. Samapai tiba dia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Karena saya tak biasa bersalaman dengan lawan jenis, saya agak malu dan kikuk ketika hendak mengulurkan tangan saya juga untuk bersalaman. Tapi akhirnya saya menyambut tangannya juga dan bersalaman.
                “Hai, kaenalin nama saya.....................”
                Dan itulah pertemuan pertama saya dengan gadis itu.
                “...............”

Senin, 20 Februari 2012

what's worth fighting for??


Berkeley, California
Seorang gadis di kamarnya sedang mondar-mandir seperti sedang kebingungan. Matanya tampak berair, tanda dia hampir menangis. Tapi dia terus menahannya agar tidak keluar dan tetap berada di dalam matanya. Setelah mondar-mandir begitu lama dia akhirnya duduk di atas sebuah sofa dan menundukan kepalanya sambil menutup wajahnya. Dia ingin menjerit, dia ingin tertawa, dia ingin menangis, dia ingin tersenyum, dia ingin meninju sesuatu, dan apa yang sangat dia inginkan adalah dia ingin semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi.
                Pagi ini dia bangun dengan bahagia dan penuh harapan. Dia menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Dia pergi mengajar di SD tempatnya mengajar, belanja, dan pulang ke rumahnya. Hari ini dia tak sedikit pun merasa tidak enak hati. Dia tidak merasakan firasat apapun tentang sesuatu yang buruk akan terjadi di malam hari. Di rumah setelah memasak dan makan malam, dia seperti biasa menulis di jurnalnya. Dia seperti biasa menulis apa yang dilakukannya di hari ini dan apa yang dirasakannya. Dia menulis hal-hal tersebut seolah-olah sedang mengobrol kepada kekasihnya yang sedang pergi jauh.
                Kekasihnya adalah salah satu tentara yang sedang ditugaskan di Palestina. Dia sudah pergi selama enambulan disana. Dan minggu lalu ada kabar bahwa dalam 2 atau 3 minggu kekasihnya itu akan pulang. Tentu saja dia bahagia. Dia bahkan terlalu bahagia sehingga kerinduan di hatinya seperti akan meledak keluar dari dadanya. Dia terus menerus menyilangi hari demi hari yang terlewat di kalendernya, agar kekasihnya nanti tau betapa dia sangat merindukannya disini.
                Tapi beberapa detik setelah dia selesai menulis di jurnalnya, telepon berdering mengabarkan sesuatu yang sangat tidak disangkanya. Sesuatu yang tidak dia perhitungkan. Dia berharap telepon itu hanya dari orang iseng saja, walaupun dia bukan. Dia berharap terjadi kesalahan, dan kabar buruk itu bukanlah untuknya, tapi dia tau kabar itu memang untuknya.
                Sekarang dia duduk dan menundukan kepalanya sambil menutup wajahnya dengan tangannya. Dia tak mampu lagi menahan air matanya. Dia menangis sesenggukan sambil menyebutkan nama kekasihnya. Andaikan kekasihnya disini, dia pasti bisa berbagi tentang beban ini. Andaikan kekasihnya telah kembali pulang, pasti kekasihnya sedang menenangkannya sambil memeluknya dengan erat dan hangat. Tapi kini dia sendiri, menangis dan tak ada yang menenangkannya. Dan sesuatu yang lebih menyakitkan lagi, kini kekasihnya tak akan pernah pulang.
                Telepon tadi mengabarkan bahwa kekasihnya telah gugur. Dia terkena bom bunuh diri. Telepon itu begitu singkat tanpa diketahui oleh si penelepon bahwa kabar dari telepon singkat itu akan bertahan sangat lama, bahkan seumur hidup.
                Gadis itu lalu sekarang beerdiri dan menghampiri telepon laknat pembawa kabar buruk itu. Dia membanting telepon itu hingga hancur berkeping-keping. Dia mendorong lemari hingga terjatuh dan melempar jurnal yang ditulisnya. Dia sangat marah kepada kekasihnya sekarang yang telah berbohong akan segera kembali padahal dia kini pergi selamanya. Dia marah, dia sedih, dia rindu, dan sekarang dia berteriak sekencang-kencangnya dan akhirnya menangis lemah sesenggukan sambil berbaring di lantai. 2 meter dari sana, jurnalnya terbuka di tempat dimana tadi dia menulis.
‘I miss you, get home soon dear. I love you.’ Itulah baris terakhir yang dia tuliskan.

We’ll find out how much we lost in the war we’ve been fighting in..
We’ll find out this is not like the fight we’re told or they know..
                And we’ll see the souls are gone useless,
                But we still hear the bombs..
We’ll regret all we have done, we’ll hate our bloody hands..
We can’t figure out this war, and love can hate somehow now..
                And we’ll see the souls are gone useless,
                But we still hear the bombs..
                And we’ll see the bodies everywhere after,
                But in the end, noone will win, both sides are losing..
                                                                                                -Dzikri Hasan BFDF-

Ramallah, Palestina
Seorang pria kurus sedang menulis di dalam camp yang gelap dan hanya disinari oleh sedikit cahaya bulan yang masuk dari luar. Di punggungnya menggantung sebuah senapan yang telah terisi peluru yang siap untuk ditembakan. Dia menulis surat kepada istrinya seolah-olah ajalnya akan segera tiba dan surat itu adalah hal terakhir yang hendak ia sampaikan.
‘Assalamu alaikum
Istriku tercinta, apa kabarmu disana? Aku sangat merindukanmu. Tolong jaga anak-anak disaat aku tak ada untuk menjaga keluarga kita. Dan janganlah kau takut, karena ALLAH senantiasa menjagamu dan anak-anak kita.  Aku sangat mencintai kalianda aku.....’
Di tengah-tengah surat dia berhenti. Dia tak sanggup lagi meneruskannya. Dia lalu menyobek kertas itu dan menyimpan surat itu bersama beberapa surat yang tertumpuk di meja. Surat-surat itu adalah surat yang ingin dia kirimkan kepada istrinya, tapi tak dia kirimkan. Dia terus menulis banyak surat untuk keluarganya tapi tak mengirimkannya, karena dia tak bisa. Keluarganya telah mati dibantai oleh tentara Israel. Dan kini dia hanya terus menulis surat yang tak akan pernah dia kirimkan.

Every night in the war,
He writes a love letter for her unsent..
Every night in the war,
He tries to tell her how he misses her..
And tonight he did it again, although he doesn’t know what it is for..
What it is for..
                                                                Dzikri Hasan BFDF

Bandung, Indonesia
Empat orang pemuda berdiri di atas panggung bersiap-siap membawakan beberapa lagu pada malam ini. Salah satu dari pemuda itu itu mengetes microphone dengan meniup-niup dan menepuk-nepuknya.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Sapa salah seorang dari pemuda-pemuda itu. “Saya mau tanya, apa sih tujuan perang itu? Kata orang-orang, tujuannya adalah damai. Saya sih engga percaya. Bagaimana mungkin bisa tercipta damai, sedangkan ketika perang berakhir, perang hanya menyisakan kepedihan, ketakutan, dendam dan mungkin benih untuk perang selanjutnya. Jadi apa tujuan perang itu? Yang jelas kami disini, semuanya sangat benci perang. Dan inilah lagu pertama dari kami.”
Suara gebukan drum mengawali lagu tersebut.
Hey miss Corrie, the girl in this mistery of the cursed truth and faith
You sacrifice your life for someone else in the endless fight
Hey miss Corrie, you came from another part of the world to help
Where are you now after the tragedy that made you have to go??
Is there something left of what you fought for??
Is there any-cure for your scar??

Hey Rachel, how are you 6 feet underground??
All people let’s take a stand to make a great wall to protect holly land
Just like what she did
From devils in a machine who just keep killing people
               
                Hey miss Corrie, i know you from your journal, but is that who you really were??
                You were so lucky to have that pure heart, that’s why i wrote these words
                Hey miss Corrie, tell he how’re you doing now-tell me if you’re OK
                Or does the unforgiven thing just stay unforgiven, so what could happen next??
                                                                               
                                                                                                                                IDZHAR

Rabu, 15 Februari 2012

if and many other ifs.. (Mexi's story II/fiction)


Jika, apa bila, kalau, andai saja. Itu adalah kata-kata yang banyak orang gunakan ketika menyesali sebuah kejadian. Misalnya ketika seorang murid dimarahi oleh gurunya karena tidak mengerjakan PR. mungkin dia berpikir andai saja dia mengerjakan PR, andai saja guru itu tidak memberi PR, andai saja guru itu berhalangan masuk, andai saja dia tak masuk sekolah pada hari itu, andai saja, andai, andai saja dan banyak andai yang lainnya.
                Hal ini terjadi juga pada sahabat kita, Mexi. Sekarang dia sedang berandai-andai juga. Sebenarnya hal ini sudah tidak aneh lagi bagi Mexi. Dia selalu berandai-andai ketika dia menyesali sesuatu kejadian yang diandaikannya tidak terjadi. Ditambah lagi Mexi memang cukup mahir dalam mengkhayal dan berandai-andai, sama seperti teman-temannya Miptah, Bowo, Dzikri dan banyak lagi. Tapi yang bikin penasaran adalah kejadian apa yang disesalinya sekarang ini? Apa ada yang tau?
                Owh, ternyata eh ternyata tadi sore Mexi melakukan sesuatu yang sangat tidak keren alias engga banget alias memalukan. Sebenarnya hal ini tidak terlalu memalukan jika tak ada yang tau. Begitu juga jika hanya teman-teman sepermainannya saja yang tau. Hal itu bukan masalah bagi Mexi. Tapi yang jadi masalah adalah si dia tau, si dia melihat, si dia menyaksikan. Siapakah si dia itu? Dia adalah Hilda. Terus kejadian yang disesalinya apa? Begini ceritanya.
                Pagi itu adalah pagi hari yang indah. Minggu pagi yang Mexi tunggu-tunggu sejak beberapa hari yang lalu. Dia akan pergi untuk reunian dengan teman-teman semasa dia sekolah di sebuah vila di daerah Parompong Bandung. Yang membuat hari itu lebih indah lagi adalah Hilda Fadilah, sang kecengan pun datang juga. Setelah mandi dan gosok gigi, dia berencana pergi menjemput Hilda di rumahnya.
                Senyum manis tersungging di muka Hilda ketika Mexi datang menjemputnya. Tentu saja senyum selebar batu bata pun bertengger di muka Mexi.
                “Mau langsung pergi kesana?” tanya Mexi.
                “Iya. Emangnya mau kemana dulu?” Hilda bertanya balik.
                “Owh, engga. Kirain kamu mau nawarin sarapan dulu. Hahahaha.” Mexi cengengesan.
                “owh, mau sarapan dulu?” tawar Hilda dengan manis.
                “Engga ko, tadi Cuma becanda aja. Tapi kalo kamu maksa, saya juga ga tega buat nolaknya. Hahaha.” Jawab Mexi.
                “.....”
                Dan akhirnya Mexi numpang sarapan dulu di rumah Hilda dan malahan membungkus beberapa makanan untuk makan siang nanti. Hahahaha.
                Di jalan Mexi sangat senang. Mukanya sangat berseri-seri yang sebenarnya sangat menyebalkan jika dipandang. Mexi bukan senang karena sudah sarapan, bukan juga karena makan siangnya sudah terjamin. Akan tetapi Mexi senang karena sepanjang jalan dia dan Hilda bisa ngobrol lama, saling bercanda dan tertawa.
                “Eh, kamu tau ga binatang apa yang namanya banyak banget huruf ‘e’nya?” Mexi mengajak Hilda maen tebak-tebakan.
                “Cendralwasih, belalang, bekicot. Engga tau ah. Emangnya apa?” Hilda nyerah.
                “Nyerah?”
                “Iya. Jadi jawabannya apa?”
                “Burung bango.” Jawab Mexi.
                “Hah?? Lo ko?” Hilda keheranan.
                “Kan ada lagunya. Sang bango e, e, e sang bango.” Jawab Mexi sambil menyanyikaan lagu yang memakai bahasa Betawi itu.
                “Iiiihhh, gariiiinnngg!” Ejek Hilda sambil tersenyum.
                Dan Mexi pun tambah senang ketika Hilda tersenyum.
***
                Di vila tempat reuninya diselenggarakan, Mexi dan teman-temannya berkumpul. Seperti biasa para laki-laki ngumpunya sama laki-laki lagi, begitu juga para perempuan, ngobrolnya sama para perempuan lagi. Mereka saling nanyain kabar dan saling ejek satu sama lain. Untuk para laki-laki ejekannya terkadang cukup parah dan menyakitkan. Tapi karena sudah biasa dan kalo marah malu mereka pun cuma tertawa terbahak-bahak.
                Vila tempat diadakan reunian itu ternyata cukup luas. Disana ada lapang bola dan bulu tangkis. Karena itulah para lelaki berencana bermain bola setelah sembahyang ashar. Karena rencana itu rencana dadakan, banyak yang tidak bawa baju ganti dan sepatu bola. Tapi hal itu tak jadi masalah. Mereka akan bermain bola tanpa sepatu alias nyeker seperti di masa sekolah waktu dulu.
                Tiba-tiba terjadi keributan di kerumunan para laki-laki. Dzikri menyebarkan isu bahwa Mexi sedang berulang tahun dan isu itu didukung oleh Bowo, Miptah, Ansor, Camat dan lain-lain. Dan Mexi akhirnya digotong rame-rame masuk ke bak mandi sehingga semua pakaian yang dikenakan Mexi dan badan yang ada di dalamnya jadi basah. Semua orang tertawa kecuali Mexi yang teriak-teriak marah campur memelas dan tak berdaya.
                “Anjrit yang bener dong. Saya ga bawa baju ganti lagi nih.” keluh Mexi. ”Si Dzikri nih gara-garanya.”
                “Hahahahaha. Kalem Mex, nanti juga kering pas maen bola. Jadi pake aja.” Jawab Dzikri sambil tertawa.
                “Fuck!” Maki Mexi.
                “Hahahahaha.” Semua orang malah tertawa.
                Semua pakaian Mexi sekarang basah dan tak enak dipakai. Dan ternyata Mexi tidak membawa pakaian ganti sama sekali. Sedangkan teman-temannya yang membawa pakaian ganti ukuran pakaiannya terlalu kecil untuk Mexi. Jadi Mexi berencana akan memaksakan untuk tetap memakai pakaian basah itu, kecuali celana dalam dan kemejanya, karena celana dalamnya tidak enak dipakai dan kemejanya akan dijemur dulu sebelum nanti malam pulang.
                Sementara orang-orang sedang siap-siap untuk bermain bola, Mexi pergi terlebih dahulu ke lapang bola. Mau apa dia? Ow, ow, ow, ternyata dia berniat membalas dendam kepada teman-temannya dengan mengikat-ikat rumput-rumput yang kebetulan panjang-panjang. Mexi mengikatkan sejumput rumput ke sejumput rumput yang lain agar bisa jadi jebakan ketika maen bola nanti. Sedikit berbahaya memang tapi  jebakan-jebakan itu sudah biasa dibuat setiap bermain bola ketika jaman masih sekolah dulu. Dan mereka biasanya hanya akan tertawa ketika salah seorang dari mereka jatuh.
                Merekapun mulai bermain bola. Akan tetapi tidak semuanya. Ada sebagian yang tidak bermain dan hanya menonton bersama para perempuan seperti Dzikri, Rey, Cabe. Sebenarnya Mexi sangat ingin melihat Dzikri jatuh oleh jebakan yang dibuatnya. Tapi sayangnya Dzikri tidak main.
                “Main dong Dzik.” Ajak Mexi setengah memaksa.
                “Engga ah, ga ada yang jago. Entar kalo udah ada yang jago, baru saya main. hahahaha.” Dzikri beralasan.
                “Loser!” Ejek Mexi.
                “Biarin. Hahahaha.”
                Dan ternyata banyak yang terkena jebakan-jebakan yang dibuat oleh Mexi. Baik teman setim ataupun lawan. Mexi tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman yang lainnya. Akan tetapi ternyata kebahagiaan tidak berlangsung terlalu lama. Setelah mencetak gol, mexi melakukan selebrasi dengan berlari-lari mengelilingi lapangan dan terjatuh karena jebakan yang dia buat sendiri. Karena Mexi bermain bola dengan memakai celana jeans dan tanpa menggunakan celana dalam, ketika jatuh ternyata alat vitalnya sedikit menggesek seleting celananya dan menimbulkan pendarahan.
                “Aaawwhh!” Mexi berteriak kesakitan.
                “Wah, bohong. Cuma mau nyari perhatian aja.” Teman-temannya tidak mempercayainya.
                “Eh asli nih. Berdarah. Tolongin hei.” Kata Bowo yang melihat darah di celana Mexi karena dia berada paling dekat dengan Mexi.
                Dan akhirnya Mexi digotong ramai-ramai ke dalam vila dan langsung dilarikan ke puskesmas yang berada dekat dengan vila itu. Dan untungnya dia tidak apa-apa. Hanya lecet sedikit di alat vitalnya. Dan akhirnya ketika pulang dia diantar oleh Dzikri, dan Hilda pulang bersama teman perempuannya.
                Dan itulah hal yang sedang disesali Mexi di malam ini. Bukan karena lukanya itu, tetapi karena kejadian memalukan itu disaksikan oleh Hilda. Terjebak oleh jebakan buatan sendiri ditambah terluka di alat vital walaupun tak parah tapi malah jadi memalukan. Apalagi karena isu yang disebarkan Bowo dan Miptah, akhirnya para perempuan teman sekolah Mexi termasuk Hilda menganggap bahwa Mexi tak pernah memakai celana dalam.
                Andai saja tidak berniat membalas dendam, andai saja tidak mencetak gol, andai saja tidak bermain bola, andai saja tidak datang ke reuni itu, andai saja tidak ada acara reunian itu. Itulah beberapa andai saja yang dipikirkan Mexi malam ini. Dia sekarang dalam beberapa hari akan malu untuk ngobrol dengan Hilda dan dalam beberapa tahun akan diejek oleh teman-temannya disunat dua kali.
Andai saja....

foto Hilda.. hahahahaha..

Selasa, 14 Februari 2012

JIKA SALAH SATU DARI 'KAMI' MATI


Tet-tot-tet-tot
Ringtone sms dari hp nokia berbunyi. Bowo dengan malas membuka sms tersebut dan membacanya. Sms dari Miptah.
‘Inna lillahi wa innna ilaihi rojiun. Tlah brplang sdara kta Dzikri AH utk slamanya. Smoga amal ibadahnya dtrima d sisinya. Amin.’
‘Yg bner MAMAT klo ngsms!!’ balas Bowo dengan marah.
Tak lama kemudian bunyi rintone telepon berbunyi. Telepon dari Mexi. Bowo mengangkatnya sambil tiduran di ranjang kostannya.
“Halo, apa Mex?”
“Bow, si Dzikri meninggal. Lagi dimana? Mau ke Bandung ga?”
“....”
***
Dua hari yang lalu
“Bow, mau ke Yogya kapan?” Tanya Dzikri.
“Besok. Naek kereta dari Bandung. Mau ikut ke Yogya Dzik?” Jawab Bowo sambil nonton pertandingan bola di TV.
“Entarlah. Hahahaha.” Jawab Dzikri.
“Bareng aja Bow ke Bandungnya sekarang.” Mexi ikutan bicara.
“Engga ah, entar aja. Saya ada urusan dulu.” Jawab Bowo. “Si Miptah kemana Mex?”
“Umur itu ga ada yang tau Wow,” sela Dzikri, “tadi si Miptah ada, Sekarang udah engga ada.”
“Hahahahaha.” Bowo dan Mexi tertawa mendengar candaan Dzikri.
“Iya, apalagi faktor umur kaya si  Miptah. Hahahha.” Tambah bowow.
                Tiba-tiba Miptah masuk sambil mengetik di hpnya. Miptah memang selalu memegang hpnya itu dan sibuk mengetik sesuatu di hpnya itu.Tapi tak ada yang benar-benar tau apa yang diketiknya itu. Kata Mexi sih Miptah sebenarnya tidak mengetik apa-apa alias pura-pura. Biar kelihatan sibuk atau punya pacar katanya. Hahahaha.
                “Wah si Miptah hidup lagi. Bener-bener saktilah jenglot kita yang satu ini. Hahahahaha.” Ejek Mexi.
                “Hahahaha.” Bowo dan Dzikri ikutan tertawa. Miptah Cuma diam bingung karena tak tau apa-apa.
                “Balik ke Bandung sekarang yu Dzik.” Ajak Mexi.
                “Bebas, yu ah.” Jawab Dzikri sambil menyalakan sebatang roko.
                “Jangan sekarang. Saya ga enak hati,” sela Miptah, “takut gimana-gimana nanti. Hahahaha.”
                “Kasih ke kucing kalo ga enak.” Jawab Mexi. “Yu ah, pulang dulu. Assalamu alaikum.”
                “wa alaikum salam.”
                Mexi dan Dzikri pun pulang ke Bandung. Di Bandung setelah mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, Dzikri mengalami kecelakaan. Dia diserempet mobil dan jatuh dari motornya.
***
Mexi menyalakan sebatang roko lagi. Sudah hampir satu jam dia dan Miptah menunggu di stasiun Bandung. Dia menunggu Bowo datang ke Bandung untuk bersama-sama melayat ke rumah Dzikri dan sekalian mau datang ke tempat Dzikri dikubur. Setelah menghisap dua batang roko lagi, akhirnya kereta dari arah Yogya tiba juga. Bowo turun dari kereta dan langsung menghampiri mereka.
“Lama banget Bow. Katanya jam sembilan?” keluh Mexi.
“Hahahaha, biasa ngaret.” Jawab Bowo. “Mau langsung ke rumah si Dzikri?”
“Bebas.” Jawab Mexi.
“langsung aja,” sela Miptah. “ Biar nanti pulangnya ga kesorean.”
“Boleh. Ngomong-ngomong kenapa sih si Dzikri meninggalnya?” Tanya bowo sambil berjalan keluar ke arah tempat Mexi dan Miptah memarkirkan motor mereka.
“Kayanya sih karena takdir. Hahahaha.” Jawab Mexi sambil tertawa.
“Katanya sih tabrakan motor,” jawab Miptah. “Pas pulang dari Garut itu.”
“So tau ih.” Mexi menyela. “Emang pas pulang dari Garut dia tabrakan, tapi meninggalnya bukan gara-gara itu.”
Mexi memang sudah tau apa penyebab kematian Dzikri. Karena sebelum Dzikri dikubur Mexi sudah sempat datang melayatnya bersama-sama teman-yeman mereka yang kuliah di Bandung. Jadi sekarang ini adalah yang kedua kalinya Mexi melayat ke rumah Dzikri.
“Gara-gara sakit.” Mexi berbicara sambil membuang puntung roko ke tong sampah setelah menginjaknya terlebih dahulu. “Jadi kalo pas kecelakaan, si Dzikri ga apa-apa. Tapi karena waktu itu hujan gede, pas pulang dia jadi demam sama flu. Besoknya tambah parah, tapi dia ga mau diperiksa dokter. Jadi Cuma istirahat di rumah aja, soalnya Cuma sakit demam aja. Tapi pas malamnya, jam sebelas atau dua belasan dia malah meninggal.”
“Oh. Umur emang ga ada yang tau. Kemaren-kemaren si Dzikri masih ada, masih maen bareng. Tapi sekarang udah ga ada.” Kata Miptah.
“Heeh, sebabnya juga ga bisa disangka-sangka.” Tambah Bowo. “Saya sih masih ga percaya si Dzikri meninggal. Tapi nyatanya emang bener-bener udah meninggal.”
“Heeh.” Kata miptah lagi.
“Bow, Mip, abis dari rumah si Dzikri jalan-jalan yu ah. Melakukan something crazy yu.” Ajak Mexi mengalihkan pembicaraan.
“Bebas, ajakan si Dzikri.” Jawab Bowo.
“Siap!!” Jawab Mexi dan Miptah berbarengan.
***
Dan jika salah satu dari KAMI mati
Dia tetap hidup, karena KAMI tak mempercayainya
Dan jika salah satu dati KAMI mati
Dia tetap hidup, walaupun hanya dalam kenangan
Dan jika salah satu dari KAMI mati
Dia tetap hidup, karena dia masih bisa menunjukan sesuatu yang baru KAMI sadari ketika dia tak ada
Dan jika salah satu dari KAMI benar-benar telah mati
Maka dia akan mati sekeren apa yang diinginkannya


                                                                                                -blew-

Senin, 13 Februari 2012

Mexi's story (fiction)


Malam semakin dingin, tapi untuk Mexi malah tambah hangat karena dia sedang senang banget. Besok dia punya rencana untuk ketemu sama Hilda, perempuan yang dia sukai sejak dia pertama kali akil baligh. Kira-kira sudah delapan atau sembilan tahun sejak dia pertama kalinya melihat gadis itu, dan dia tetap senang kapan pun dia punya kesempatan untuk melihatnya lagi. Dan besok bukanlah pertama kalinya dia bertemu berdua dengan Hilda. Tapi setiap kali mau bertemu tetap saja masih sedikit grogi dan bingung apa yang akan dilakukan nanti.
                Dan sekarang Mexi sedang duduk di kampusnya tercinta, Unpas di jalan tamansari bawah. Apa yang dia lakukan? Owh, ternyata dia sedang berkonsultasi sama Dzikri, temannya yang selalu berbicara so bijak dan teoritis. Walaupun nasehatnya tak pernah terbukti berhasil, tapi Mexi selalu menganggap nasehat dan petuah dari temannya itu benar atau paling tidak cukup keren untuk dilakukan.
                “Anjrit dzik, besok saya harus bagaimana? Bingung uy.” Tanya Mexi.
                Dzikri meminum seteguk kopi hitamnya dan menghisap rokonya lalu menghembuskan asapnya langsung sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Dia selalu melakukannya agar mendapatkan kesan keren dan berwibawa di mata orang-orang yang rela tertipu oleh nasehat dan petuah busuknya.
“Ajak nonton aja mex. Makan terus anter pulang ke rumahnya.” Jawab Dzikri so bijak. Seolah-olah saran pasaran itu hanya akan terpikirkan olehnya.
“Iya ya. Tapi takut nervous uy kalo waktunya lama sama si Hilda. Takut ga tau harus ngomong apa.” Mexi ragu.
Dzikri menyalakan sebatang roko lagi lalu menjawab, “tapi itu adalah cara ngedate yang pasti berhasil buat amatir kaya kamu.” Dia mengatakannya seolah-olah dia sudah sangat profesional.
“hahahaha..” Mexi ketawa garing. Tak percaya apa yang dia dengar.
***
Walaupun Mexi tak yakin dengan apa yang dikatakan Dzikri, tapi besoknya dia tetap saja berencana melakukan apa yang diberi tahu oleh Dzikri. Dia berencana menjemput Hilda ke tempat kerjanya setelah dia pulang kuliah. Mexi memakai semua segala cairan yang tercium wangi ke seluruh tubuhnya. Dan berjalan ke luar kostannya dengan senyum jumawa yang tersungging di wajahnya seolah-olah dia baru dapat restu dari orang tuanya untuk pergi berperang.
“Edan nih yang mau ngedate,” ejek temannya. “pergi jum’atan aja ga pernah gini-gini amat. Hahahaha.”
“Hahahaha,” Mexi tertawa. “yu ah, do’akan bapamu nak. Hahaha”
“Kalo berani tembak dong Mex.”
“Kalem, liat aja nanti pas pulang.” Jawab Mexi sambil pergi.
“.......”
***
Mata kuliah terakhir terasa sangat lama. Seratus menit serasa satu tahun. Mexi sudah tak sabar untuk bertemu sama Hilda jam satu nanti. Dia terus menerus melihat hpnya. Lock-unlock lock-unlock terus begitu. Selain untuk melihat jam karena waktu terasa sangat lambat, dia juga khawatir kalo Hilda tiba-tiba membatalkan pertemuannya nanti. Tapi sejauh ini dia belum menerima sms apapun. Dan itu cukup membuat hati mexi tenang.
”Yah mungkin itu saja untuk minggu ini.” Akhirnya si Bapak Dosen mengakhiri kuliahnya. “Karena bab ini sudah selesai, minggu depan kita kuis ya.”
Semua mahasiswa langsung ribut mendengar kata kuis. Mereka mengomel dan protes walaupun si Bapak Dosen tak peduli dan langsung pergi meninggalkan para mahasiswa yang bingung karena baru menyadari ternyata mereka tidak mengerti sama sekali mata kuiah tersebut.
“Aduh, saya ga bisa sama sekali nih. Harus kursus kilat lagi kayanya nih Mex.” Farhan mengeluh.
“Hahaha.” Mexi hanya tertawa lalu pergi.
Mexi bukannya ga pusing dengan kuis, tapi dia sedang buru-buru untuk pergi sholat dan menjemput Hilda di tempat kerjanya dan pergi ngedate.
Setelah sholat Mexi langsung pergi ke basement kampusnya mengambil motornya dan langsung pergi. Sepanjang jalan dia hanya memikirkan hal-hal indah. Melamunkan wajah Hilda yang tersenyum dengan matanya yang meneduhkan itu memandang wajahnya. Mexi tersenyum terus menerus seperti orang gila. Cara memakai motornya pun jadi sedikit mengganggu pengendara lain.
“Baleg anjing!” Maki seorang tukang angkot. Tapi Mexi tetap kalem dan terus tersenyum.
Jam satu kurang lima belas Mexi sudah sampai ke tempat kerja Hilda. Karena masih ada waktu lima belas menit, Mexi pun keluar lagi setelah memarkirkan motornya untuk membeli sebungkus roko dan menghisapnya sebatang. Ketika baru menyalakan rokonya, hp Mexi berbunyi. Ada sms masuk dari Hilda.
‘msih dmna?’
‘d kmpus, bru kluar klas..’ Jawab Mexi berbohong untuk mengejutkan Hilda.
Lalu seperti jalangkung, sms yang tak diharapkan pun datang tak diundang.
‘oh, ya udh, hri ini ga usah jadi aja ya. Akunya lgi bnyak kerjaan. Ini juga kyanya harus plang mlem, ga bsa kluar kntor sma skali. Maaf ya.’ Balas Hilda.
‘owh, ya udah. Ga apa2’ Jawab Mexi lesu.
Setelah membalas sms, Mexi langsung kembali ke parkiran untuk langsung pulang. Tapi betapa terkejutnya ketika dari kejauhan dia melihat Hilda berjalan bersama seorang laki-laki sambil tersenyum menuju ke arah sebuah mobil. Mexi sedang cukup terkejut ketika mobil itu berlalu begitu saja keluar dari parkiran.
***
“Gimana mex?” tanya teman kostannya.
“Fuck anjrit!” jawab Mexi.
“.....”
Mexi langsung tiduran setelah sampai sambil memikirkan apa yang terjadi. Dia tidak jadi pergi sama Hilda. Hilda pergi sama orang lain. Dan sesuatu yang paling menyakitkan, Hilda berbohong. Rasanya tidak ingin percaya walaupun dia melihat dengan mata-kepala sendiri. Dia lalu mengambil hpnya dan menelepon Hilda.
“Halo.” Suara Hilda di seberang sana. Terdengar suara bising seperti sedang berada di dalam mall.
“Hilda, dengerin dulu saya ngomong ya. Jangan motong ok?”
“hah? Iya.” Jawab Hilda.
“Saya tau kamu tadi ngebohong waktu ngebatalin janji sama saya, soalnya saya juga ngebohong waktu saya bilang saya masih di kampus. Sebenernya waktu itu saya udah di tempat kerja kamu dan saya liat kamu pergi.” Mexi menarik nafas panjang, “apa pun alasannya, nanti kalo kamu janjian sama saya lagi atau orang lain dan kamu mau ngebatalin, kamu ga usah ngebohong. Saya ga akan apa-apa ko.”
“Maaf.” Kata Hilda pelan.
“Ga apa-apa. Hahahahaha. Eh, ngomong-ngomong kamu pernah denger lagu MxPx yang ngerecycle lagunya The Proclaimers belum? Yang judulnya i’m gonna be (500 miles).
“Hmm, belum. Emangnya kenapa?” tanya Hilda masih dengan nada bersalah.
“Sekarang kan saya bukan siapa-siapa kamu. Tapi nanti dua atau tiga tahun lagi, pas saya ngelamar kamu, saya akan nyanyiin lagu itu buat kamu. Insya ALLAH. Hahahaha.” Jawab Mexi.
“Ma kasih ya.” Jawab Hilda terdengar seperti menyesal karena sudah membohongi Mexi.
Hening sekitar tiga puluh detik.
“Ya udah, sampai nanti ya.”
“Iya.”
“Assalamu alaikum.”
“Wa alaikum salam.”
Malam ini tampaknya akan lebih dingin dari kemarin.



MxPx – I’m gonna be (500 miles)
[Originally by The Proclaimers]
When I wake up, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who wakes up next to you,
And when I go out, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who goes along with you,
And if I get drunk, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who's gettin' drunk with you,
And if I haver, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who's havering to you.
I would walk five hundred miles,
And I would walk five hundred more 
to be the man who walked a thousand miles to fall down at your door.
When I'm working, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who's working hard for you,
And when the money comes in for the work I do, 
I'll pass almost every penny on to you,
And when I come home, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who's coming home to you,
And when I grow old, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who's growing old with you.
I would walk five hundred miles,
And I would walk five hundred more 
to be a man who walked a thousand miles to fall down at your door.
And when I'm dreaming, yeah, you know I'm gonna dream...
I'm gonna dream about the times when I'm with you,
And when I'm lonely, yeah, you know I'm gonna be...
I'm gonna be the man who's lonely without you,
I'm gonna be the man who's coming home to you.
I would walk five hundred miles,
And I would walk five hundred more 
to be the man who walked a thousand miles to fall down at your door.
Mummy's alright, Daddy's alright,
They just seem a little weird,
Surrender, surrender, but don't give yourself away,
Mummy's alright, Daddy's alright,
They just seem a little weird,
Surrender, surrender, but don't give yourself away,
Way away, away.
I would walk five hundred miles,
And I would walk five hundred more 
to be the man who walked a thousand miles to fall down at your door.